Minggu, 16 Juni 2013

Kamu yang berbumbu

Kamu itu biasa saja. Hanya serangka tulang yang kebetulan bisa menopang daging sekian kilo, yang secara kebetulan pula dengan baik dapat berkoordinasi dengan sekerat lagi daging di dalam batok kepalamu. Maka jadilah kamu makhluk bernama manusia. Biasa saja.
 
Kamu itu biasa saja. Hanya sekumpulan memori dan reaksi, dilengkapi dengan opini dan emosi. Jadilah kamu makhluk dengan kemampuan sosial bernama manusia. Masih biasa saja.
 
Kamu itu biasa saja. Hanya sebuah pribadi dengan sekumpulan preferensi dan sedikit afeksi untuk dibagi, ditambah satu titik personal sebagai pedoman rotasi, maka jadilah kamu manusia berkarakter. Masih juga biasa saja.
 
Kau adalah manusia yang bagaimanapun akan selalu biasa saja, tidak akan istimewa. Karena aku adalah seorang manusia (yang juga biasa saja) dengan budi pekerti luhur yang tinggi serta tentunya menjunjung tinggi nilai-nilai kebersamaan, maka kuberikan kau sedikit bumbu agar terasa lebih gurih dan, seandainya engkau berada dalam daftar panjang menu sebuah kedai makan, menjadi patut untuk mendapat satu atau dua tanda jempol. Tidak perlu repot-repot mencarinya ke pasar swalayan, karena bumbu itu sudah tersedia di pekarangan belakang rumah terestrialku. Organik, tanpa pestisida. Jadi jangan khawatir, khasiatnya terjamin dan tidak akan menggerogotimu kelak.
 
Kemari, kemarilah! Kuberi kau sesendok makan perbicangan berjeda asap dedaunan kering yang dibakar sore-sore dan teh legi. Kutambahkan lagi satu biji prasangka hasil panen ladang hati kemarin sore, lalu kugerus satu dua siung perhatian yang tak sempat melarikan diri dari kandangnya. Hampir, kau hampir siap dihidangkan sekarang! Kau hanya perlu dilengkapi segenggam kecil petualangan dan tawa kepunyaan langit, lalu dipermanis oleh sebatang rindu yang belum siap melayu.
 
Nah, ini dia. Ini dia kamu dalam racikan baru. Sudah kau cicipi rasa barumu bukan? Coba katakan padaku, bisakah kau tidak rindukan rasa itu? Satu persatu bumbu yang kutambahkan akan meledak di lidahmu yang terus berusaha mencecap dan satu demi satu reseptor di lidahmu akan berusaha memeluk rasa itu, karena tahu rasa ini tak akan ada tanpa bumbu dariku. Tak akan ada tanpa aku.
Sebagaimana aku yang merindukan racikanku, kau pun akan merindukan dirimu yang berbumbu. 
 
 
 
Jadi sayang, itulah yang aku rindukan. 
 
 
 
Kamu yang berbumbu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar