Senin, 24 Juni 2013

Mengenalmu adalah Sesuatu dan Seketika



Ketika aku mengenalmu, seperti sesuatu yang baru aku tahu. Hanya berbekal 12 digit kombinasi aku cukup mengenalmu, kala itu. Dimulai dari tempat yang indah yaitu kampusku. Tempat di mana aku bisa mengisi waktuku, menyelesaikan kuliahku dan di situ aku mulai mengenalmu.

Penat itupun hilang, setelah melihatmu. Tatapanmu laksana tukang urut di kampungku, melepaskan penat yang menggantung di sendi-sendi sekujur tubuhku. Tiap saat di tempat itu, aku lihat kamu, mondar-mandir membawa proposal dan kertas, tidak untukku. Ahh, jadi pingin mondar-mandir di hatimu seperti setrika yang aku punya.

Rasa kagum mulai menelusup di punggung-punggung hatiku. Labirin-labirin hatiku mulai merasakan itu. Walaupun aku tahu, belum tentu kamu merasakan hal yang aku rasa. Tanpa sepengetahuanmu, tanpa persetujuanmu, aku hidup dalam bayanganmu. Semua berjalan seperti biasa, sebiasanya aku minum kopi favoritku di kamar tercinta dan aku semakin menikmati kedekatan itu, laksana kopi yang aku nikmati tiap hari, yang tidak pernah aku takuti untuk kunikmati.

Aku takkan pernah takut mencintaimu, walaupun itu tak mungkin aku ucapkan dengan perkataan lisanku, karena memang sulit untuk diucapkan. Laksana hujan yang tak pernah takut untuk turun, dan selalu dibayangi oleh awan sebelumnya dan laksana air laut yang mengalir mengikuti gelombang.

Percakapan-percakapan itu, laksana harum melati yang sudah lama aku tahu, walaupun belum tentu kamu tahu. Rasa ini tulus adanya, dan aku tidak menuntut atas apa yang aku lakukan dalam bayanganmu. Percakapan-percakapan itu semakin aku nikmati, baik offline maupun terkadang kita bercakap online. Ah, baik tulisan maupun suaramu seperti racun dalam dadaku yang takkan hilang walaupun antibiotik seduniapun disuntikkan kepada tubuhku.

Aku tahu kamu begitu unik, sampai aku sudah lupa bagaimana cara menghapus mantan-mantanku yang dulu agar aku dapat menghapusmu dari memoriku. Selain itu kamu juga lucu, benar atau tidak aku tak peduli, yang aku tahu kamu jutek dan keras. Kamu semakin lucu, apalagi kalo amarah menderamu. Aku rasa baru kali ini aku dimarahin kamu tetapi aku sendiri masih merasa kamu tetap lucu.

Dengan indah, kamu membuka mataku dengan pandanganmu, sampai-sampai aku benar-benar tak mengerti kenapa aku bisa menggilaimu. Tidak mungkin kamu tidak tahu, karena aku selalu hadir di tempat kamu menghabiskan malam. Ahh, kamu bagaikan gula untuk kopiku, pahit rasanya tanpa kamu.

Aku tidak seberapa tahu, “How Old Is Your Soul?”, berapa jauh dirimu sudah terbang? Yang aku tahu hanyalah kemisteriusanmu, teka-tekimu. Aku hanya tahu, kamu memiliki tongkat yang selalu bersamamu, walaupun sampai saat ini aku tidak pernah mendengar klaim dari mulutmu, kalau itu benar-benar tongkatmu. Tongkat yang akan selalu menuntunmu di saat suka maupun duka. Aku tak peduli itu, karena aku benar-benar menggilaimu.

Ahh, aku tak peduli itu, seperti dalam lagu kesukaanku, “MENUNGGUMU”, itu yang aku lakukan, walaupun selamanya aku hidup dalam bayanganmu. Dan selama itu pula aku yang ada kamu anggap tiada, aku terima itu. Menikmatimu dalam kesendirianku aku rasa sudah cukup. Dan keyakinanku, tidak mungkin kamu tidak tahu dan tidak merasakan, karena rasa ini walaupun biasa, masih cukup menggetarkan singgasana hatimu.

Aku akan terus belajar memahamimu, seperti matahari yang terus berusaha menerangi singgasana manusia di manapun berada. Aku akan terus berusaha mengenalmu, sekalipun hanya lewat bayanganmu, karena tanpa bayangan, aku yakin semuanya di bumi ini tidak dinamakan benda.
Yah, mengenalmu adalah sesuatu dan seketika. Sesuatu di hatiku dan seketika waktu itu berjalan.
Sesuatu aku bayangkan dan seketika aku jalankan. Memang, dirimu adalah sesuatu dan seketika bagiku.

Sekarang kamu lagi sakit, . . .
cepet sembuh yah, . . cepet ke kampus, . . .
kangen sama senyuman kamu loh, , , , ,senyum gehhhhh :)

Dedicated to my friend (new inside) for something that I knew from you.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar